Suara Dayak.com, Puruk Cahu – Lebaran Idulfitri bukan sekadar perayaan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, tetapi menjadi momentum untuk kembali ke fitrah, yakni hati yang bersih, jiwa yang lapang, serta hubungan yang kembali dipulihkan.
Hal tersebut disampaikan oleh politisi Partai Gerindra, Sutrisno, S.T, yang dikenal sebagai sosok religius dan taat menjalankan ajaran Islam.
Menurutnya, makna kembali ke fitrah adalah upaya menjadikan diri lebih suci. Ia menegaskan bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan bersih, dan melalui ibadah puasa Ramadan, umat Islam diajak menjaga kemurnian hati serta menjauhi sifat iri, dengki, dan kesombongan. “Jangan biarkan hati yang telah dibersihkan selama Ramadan kembali ternodai oleh kesalahan yang sama,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa tradisi saling memaafkan saat Lebaran bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pembebasan jiwa. Memaafkan orang lain berarti melepaskan beban dalam diri. “Maaf bukan tanda kekalahan, melainkan kelapangan hati yang mendekatkan kita kepada Allah,” imbuhnya.
Sutrisno yang juga merupakan Anggota Komisi III DPRD Murung Raya menambahkan bahwa hikmah Lebaran harus menjadi cahaya dalam menjalani kehidupan ke depan.
Ia mengingatkan bahwa tujuan puasa adalah mencapai ketakwaan, sehingga Lebaran bukanlah akhir, melainkan awal untuk menjaga kualitas iman dan amal. “Jika Ramadan adalah latihan, maka Lebaran adalah ujian, apakah kita mampu istiqamah setelahnya,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan pentingnya silaturahmi sebagai bagian dari ibadah sosial. Mengunjungi keluarga, mempererat hubungan, serta memperbaiki yang retak merupakan amalan yang bernilai tinggi.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya kepedulian sosial melalui zakat fitrah, agar kebahagiaan Lebaran dapat dirasakan oleh semua kalangan. (Man)










